yankie, oscar, romeo, india.

yori's posts with tag: teori bodoh yori

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag teori bodoh yori
Blog Entryi think i know why i am gayMay 12, '08 2:22 AM
for everyone










...hmmm...







Blog Entrypositif, negatif, yuk yak yukMay 8, '08 6:59 AM
for everyone
orang2 positif:
"kita adalah hasil pemikiran kita" buddha.
"gua jago, gua pinter, gua ganteng sekaligus cantik, gua berbakat, gua sukses" yori
"cobain aja dulu lah. ga bakal rugi" banyak orang.
"wah susah ya? baguslah jadi gua belajar"
"yaaah itung2 belajar hal baru"
"oke, gua ga boleh sedih lama2. yang rugi gua"

orang2 negatif:
"gua teh ga bisa, eh"
"aah paling2 gua ditolak lagi"
"gua kan jelek. mana mau dia"
"aduuuh miskiiiiin miskiiiin"
"ga mungkin bisa ini mah. susah abiiiis"
"masa depan gua mah suram"

setelah kurang lebih 6 bulan mencoba mempengaruhi orang2 supaya terus berpikir positif, gua mentok juga. ternyata buat banyak orang, berpikir positif itu tidak wajar, sulit, dan tidak realistis.

you know what? terrrrrserrrrraaaaah.

yin dan yang perlu ada terus menerus bersandingan. demikian juga orang2 positif dan orang2 negatif harus saling bersandingan. orang2 negatif perlu ada supaya orang2 positif tetap bisa merasa feel good dan beruntung. berjaya dan luar biasa sukses.

jadi? terrrrrserrraaaaaahhhhh.....

kumaha maneeeeh

Blog Entryrepetitisasi repetitifMay 1, '07 4:10 AM
for everyone
gua sudah menulis tentang ini di frenster, tapi semenjak tidak ada yang peduli, here goes:

belakangan gua mencoba mengerti kembali repetisi. gua baru sadar bahwa repetisi, dalam bentuknya yang abstrak, merupakan elemen yang sungguh menarik untuk disadari.

repetisi membentuk musik. dan makin repetitif unsur-unsurnya, makin magis efeknya. iya kan? dalam musik-musik native, repetisi digunakan total-totalan. lalu mereka menari dengan gerakan diulang-ulang, ujungnya lalu kesurupan. dari awal kebudayaan orang sudah menyadari bahwa sarana untuk mendekati 'kekuatan yang lebih besar' adalah repetisi.

contoh repetisi dalam agama modern adalah maulawiyah, atau yang sarjana2 eropa sebut sebagai 'whirling dervish'--darwis yang berputar. pernah liat kan? cowok-cowok bertopi tinggi yang pake rok penuh berputar-putar diiringi musik suling dengan perkusi yang sebentar-sebentar menyela. berputar-putar juga bisa dianggap repetisi. mereka sebenarnya bersemedi, mencari kedekatan pada ilahi.

gua termasuk orang yang berpendapat bahwa 'kekuatan yang lebih besar' sebenarnya ada di dalam kita sendiri. kita semua, hidup dan mati, materi dan antimateri, adalah akumulasi dari apa yang kita sebut sebagai tuhan. yesus memakai kalimat 'tuhan ada dalam hati,' untuk menegaskan ini. islam memperkenalkan teknik disiplin tubuh dalam keheningan yang membuat kita berkonsentrasi. budha dan hindu malah menegaskan pentingnya disiplin tubuh untuk 'mencari ke dalam' yang kita kenal sebagai meditasi.

mencari tuhan memang ke arah dalam.

meditasi adalah salah satu bentuk.

dan repetisi adalah alatnya.

dalam meditasi, atau hipnotis, atau cuci otak, repetisi adalah senjata utama. kalimat-kalimat yang diulang mensugesti alam bawah sadar kita, membuat kita lebih jernih dan 'melihat ke dalam'. kita menjadi seperti apa yang diucapkan, tubuh dan jiwa. kita bahkan mampu memanipulasi alam dengan cara yang lebih halus.

repetis samasekali bukan sihir, saya rasa. itu sepenuhnya alami, walau magis.


Blog EntrybrengseksisasiApr 26, '07 2:07 AM
for everyone
cowok brengsek

gua kemaren mencoba mikir-mikir. kenapa cowok cenderung jadi brengsek. brengsek adalah terma yang dilekatkan pada kaum pria oleh kaum wanita. kata gua, cowok itu ngga brengsek, mereka cuma 'terbatas'.

kata orang, cowok memiliki keterbatasan dalam membagi konsentrasinya. mereka tidak mampu mencurahkan segala konsentrasi pada dua atau lebih hal sekaligus, tidak seperti wanita. tapi sulitnya, kaum pria punya banyak sekali tanggung jawab, tugas, dsb yang harus dipikirkan bersama-sama sekaligus dalam satu waktu.

bukannya gua mengecilkan kaum perempuan. kaum wanita juga punya banyak tanggung jawab yang sifatnya berbeza dengan laki-laki, hanya wanita sanggup memikirkan semuanya sekaligus. laki-laki tidak.

laki-laki dituntut ibunya untuk sekolah tinggi-tinggi, menikah, cepat punya cucu, kalau bisa laki-laki. laki-laki dituntut pacarnya untuk mencintai sepenuh hati dan menelepon dua jam sekali tiap hari dan menjemput setiap malam minggu dan mengucapkan kata sayang sesering mungkin. laki-laki dituntut istrinya supaya kaya sehingga anaknya bisa disekolahkan di sekolah bagus dan istrinya bisa beli-beli baju baru, ikut pilates, body language, beli-beli perhiasan dan tidak malu di depan ibu-ibu lain. atau dituntut agar bisa perkasa di ranjang karena kata majalah 'anu', seks itu vital bagi pernikahan. laki-laki dituntut bos-bosnya untuk makin efektif makin efisien makin efektif lagi makin efisien lagi. laki-laki dituntut teman-temannya supaya bisa meluangkan waktu bersama mereka dan membicarakan wanita dan otomotif.

nah. tanggung jawab multidimensi ini menyerang kapasitas otak laki-laki, menyebabkan korslet. masih untung mereka tidak jadi gila, atau jadi schizophrenic paranoid (kayak bapak John Nash). outlet mereka biasanya adalah membuat prioritas. seringkali kasusnya, prioritasisasi ini mengorbankan perasaan wanita. dus, si cowok di cap brengsek. biasanya pekerjaan menjadi prioritas kaum lelaki kebanyakan. wanita hanya jadi objek seks karena mereka sebenarnya sudah kehabisan energi untuk menjadi emosional. ini ga ada hubungannya sama harkat dan martabak eh martabat wanita.

tidak semua. gua kenal beberapa laki-laki yang sukses di pekerjaan, sukses juga di kehidupan emosional. tapi, ayolah, gua tahu wanita tidak pernah tertarik pada cowok sempurna. cowok yang memberikan keamanan dan kenyamanan yang total baik materi maupun emosional adalah membosankan.

"ngga kok yooooor ... ."

masa?

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help