belakangan gua mencoba mengerti kembali repetisi. gua baru sadar bahwa repetisi, dalam bentuknya yang abstrak, merupakan elemen yang sungguh menarik untuk disadari.
repetisi membentuk musik. dan makin repetitif unsur-unsurnya, makin magis efeknya. iya kan? dalam musik-musik native, repetisi digunakan total-totalan. lalu mereka menari dengan gerakan diulang-ulang, ujungnya lalu kesurupan. dari awal kebudayaan orang sudah menyadari bahwa sarana untuk mendekati 'kekuatan yang lebih besar' adalah repetisi.
contoh repetisi dalam agama modern adalah maulawiyah, atau yang sarjana2 eropa sebut sebagai 'whirling dervish'--darwis yang berputar. pernah liat kan? cowok-cowok bertopi tinggi yang pake rok penuh berputar-putar diiringi musik suling dengan perkusi yang sebentar-sebentar menyela. berputar-putar juga bisa dianggap repetisi. mereka sebenarnya bersemedi, mencari kedekatan pada ilahi.
gua termasuk orang yang berpendapat bahwa 'kekuatan yang lebih besar' sebenarnya ada di dalam kita sendiri. kita semua, hidup dan mati, materi dan antimateri, adalah akumulasi dari apa yang kita sebut sebagai tuhan. yesus memakai kalimat 'tuhan ada dalam hati,' untuk menegaskan ini. islam memperkenalkan teknik disiplin tubuh dalam keheningan yang membuat kita berkonsentrasi. budha dan hindu malah menegaskan pentingnya disiplin tubuh untuk 'mencari ke dalam' yang kita kenal sebagai meditasi.
mencari tuhan memang ke arah dalam.
meditasi adalah salah satu bentuk.
dan repetisi adalah alatnya.
dalam meditasi, atau hipnotis, atau cuci otak, repetisi adalah senjata utama. kalimat-kalimat yang diulang mensugesti alam bawah sadar kita, membuat kita lebih jernih dan 'melihat ke dalam'. kita menjadi seperti apa yang diucapkan, tubuh dan jiwa. kita bahkan mampu memanipulasi alam dengan cara yang lebih halus.
repetis samasekali bukan sihir, saya rasa. itu sepenuhnya alami, walau magis.